Kebanyakan wartawan tumbuh dengan pola pikir benteng. Mereka telah tinggal dan bekerja di lembaga tersebut dan merasa bangga dengan lembaganya. Pada masa ini jurnalis sibuk untuk menjatuhkan nama instansi lembaga jurnalis lain, tentunya hal ini di lakukan agar jurnalis tersebut bebas untuk memperoleh berita tanpa di ganggu dan di campur tangani oleh jurnalis lain.
Selasa, 03 Mei 2011
The end of fortress journalism
Diposting oleh
Azhar D'crain
di
05.45
jadi pada masa ini jurnalis pergerakannya di batasi, jurnalis dalam melakukan berita tidak bisa berekspresi dan berdaya imajinasi tinggi di sini para jurnalis di kekang untuk mencari berita sesuai dengan jenis media yang ia geluti atau yang di ikuti. Contoh wartawan berita televisi hanya boleh meliput berita untuk di siarkan di televisi saja, begitu pula dengan wartawan cetak, hanya boleh meliput berita dan berita tersebut di berikan pada korannya saja, jadi dalam masa ini terjadi pembentengan atau pembatasan jurnalis dalam menyajikan berita yang telah ia liput
Kebanyakan wartawan tumbuh dengan pola pikir benteng. Mereka telah tinggal dan bekerja di lembaga tersebut dan merasa bangga dengan lembaganya. Pada masa ini jurnalis sibuk untuk menjatuhkan nama instansi lembaga jurnalis lain, tentunya hal ini di lakukan agar jurnalis tersebut bebas untuk memperoleh berita tanpa di ganggu dan di campur tangani oleh jurnalis lain.
Kebanyakan wartawan tumbuh dengan pola pikir benteng. Mereka telah tinggal dan bekerja di lembaga tersebut dan merasa bangga dengan lembaganya. Pada masa ini jurnalis sibuk untuk menjatuhkan nama instansi lembaga jurnalis lain, tentunya hal ini di lakukan agar jurnalis tersebut bebas untuk memperoleh berita tanpa di ganggu dan di campur tangani oleh jurnalis lain.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar